Percayalah sayang berpisah itu mudah

Tak ada kamu dihidupku, aku mampu

Namun menghapuskan semua kenangan kita

Adalah hal yang paling menyulitkan untukku

    ( Rizky dan Mikha Tambayong, Berpisah itu mudah )

 

Tahu nggak apa yang membuat seseorang itu susah move on? Jawabannya adalah kenangan. Seandainya jika otak kita mempunyai saklar on off, tombol delete dan CTRL-ALT-DEL, maka mungkin hidup akan jauh lebih mudah.

  • Abis putus dari pacar, sedih tiap kali lewat suatu resto karena disitulah tempat jadian. Tinggal tekan tombol DELETE.
  • Kangen sama kampong halaman karena milih isip jauh beda pulau, tinggal CTRL-ALT-DEL
  • Trauma karena pernah dilecehkan secara seksual, tinggal di reset otak ini.
  • Benci karena pernah ditolak ama gebetan, tekan aja delete, kelar urusan.
  • Dan masih banyak lagi.

Tapi kenangan itulah yang justru bisa memberikan kita motivasi untuk mencoba lagi, belajar lagi, tidak menyerah, pengen mudik juga karena kenangan yang indah di kampung halaman, dan bahkan kenangan itulah yang memberikan semangat untuk kita TIDAK MUDAH MENYERAH.

Tidak percaya?

  • Coba tanyakan kepada seseorang yang pernah makan di resto yang makanannya enak banget, kenangan akan rasa itulah yang membuat dia kembali dan makan lagi.
  • Coba tanyakan kepada seseorang yang sedang merantau, kenapa dia ingin mudik? Jawabannya karena di kampong banyak kenangan termasuk bertemu orang tua dan teman lama.

 

Kenangan akan perjalanan pertama saat menjadi relawan di Lombok itu juga yang memberikan motivasi buatku ( dan beberapa relawan lainnya  ) untuk kembali lagi dan lagi.

—-

Kedatangan kloter kedua di Sigar Penjalin sempat membuatku cemas. Diimport langsung dari airport tanpa lewat KCI terlebih dahulu. Jadi sebenarnya waktu itu Daniel telpon dan nanya apakah mereka harus mampir dulu di KCI atau langsung ke Sigar.

Langsung Sigar Penjalin saja, jawabku.

Feelingku ngga enak nih… Kayaknya kloter kedua ini kelewat unyu sehingga kalau sempat mampir ke KCI mereka akan merasakan sorga dunia dan bakal kehilangan nafsunya untuk menjadi relawan.

Grup kloter 2, kayaknya kurang lengkap

Belakangan aku baru tahu ternyata ini sedikit benar hahah…

Skip..skip…

Datanglah kloter kedua dengan pipi yang masih merah merona. Aku sempat curiga jangan-jangan mereka pikir nama sigar penjalin itu sebuah salon atau mall kali ya, jadi mereka di mobil pada dandan.

Perpisahan dimulai antara kloter awal dan penyambutan kloter baru..

Jujur agak sedih sih, soalnya kloter 1 itu kayak perpaduan program Dunia Dalam Berita TVRI jaman dulu.  Ada yang mirip Arab, Pakistan, Mongolia, mbok sinden extravaganza, sampai preman tanah abang. Jadi mereka cukup bisa diandalkan.

Sementara kloter 2 begitu sampai terdengar kata “BABADARAH”, “SONTOLO”..

WTF??

Jujur awal kami rada meragukan mereka, soalnya seperti dugaan awal, mereka terlalu unyu buat jadi relawan.

Kejadian tak terlupakan adalah saat aku kembali ke tenda, ada relawan cowo namanya Bambang yang sedang nangis dan dikelilingi oleh para gadis2..

Apa yang sedang kamu lakukan Fergusooo??? Kami saja masih jomblo, kamu baru datang dah dikelilingi oleh nona-nona muda ini..

Tapi ternyata Bambang baru dapat kabar kalau ayahnya baru saja meninggal. OMG!!

Hal yang aneh lagi adalah besok paginya kardus yang isinya snack-snack kok hilang ya, padahal rasanya masih banyak waktu itu.

 

Gempa terjadi lagi 6,9 SR di Lombok.

Jam 11 malam kejadiannya. Waktu itu aku dan Sisco sedang ngebakso di lapangan kabupaten Tanjung saat gempa itu terjadi. Gempa Itu rasanya kayak kamu sedang masang lampu di plafon rumah sambil berdiri di kursi goyang. Kebayang kan kayak gimana rasanya.

Wah sesudah reda gempanya, kami bergegas pulang ke tenda Sigar Penjalin buat melihat nasib yang menimpa relawan kami yang unyu-unyu.

Sampai sana ternyata mereka sedang tidur-tiduran… Haaahhhh… sumprit! Tahu gitu kan pesen bakso semangkok lagi. Sigar Penjalin aman gaes… Hati kami lega dan senang sekali melihat senyum mereka saat mereka sedang tidur.

Tapi saat tahu genset belum dimatiin malah udah ditinggal tidur, pengen rasanya makan itu kain pinggiran tenda…  :(((

 

Esoknya meluncur ke Lombok Timur karena menurut berita disana paling parah kerusakannya.

Dan itu adalah perjalanan yang sunyi, mungkin karena mereka belum saling kenal dan masih takut dengan brewoknya Bang Sisco yang baru tumbuh, jadi ngga berisik wkwkw…

Kalau sekarang? Hhmm… kayaknya lebih baik pakai headset dan tidur deh. Pasar pagi aja kalah..

Lombok Timur gaess, buset dah masih pada jaim

Di kloter kedua ini, aku melihat masing-masing relawan unik sama seperti di kloter pertama.

  • Ada yang bergaya sok dewasa gitu, mungkin karena tahu bahwa doi yang paling senior. Tapi gara-gara dia juga kita jadi sering telat. Tiap kali dah mau berangkat, tahu2 dia ngilang.. eh ketemunya keselip diantara tenda-tenda pengungsian Sigar Penjalin.. Jangan-jangan ada cinlok.
  • Ada yang kayaknya tubuh dia tuh pakai baterai alkaline, ngomong bisa ngga habis-habis dari pagi sampai malam. Tapi kalau udah tidur, kayak orang pingsan. Buktinya? Kita dah siap sarapan, dia baru keluar kamar dan mau mandi. ( ketahuan di session 2 hahah..)
  • Yang cantik kayak putri keraton juga ada. Rambutnya bagus banget. Kayaknya kalau lalat nempel bisa terpeleset deh. Entah habis pantene sachet berapa banyak biar rambutnya bisa kayak gitu.
  • Nah yang suka makan juga ada. Ini cewe loh sodara2.. kayaknya itu perut perpaduan antara molen semen sama VW combi, ngga ada kenyangnya.
  • Ada yang suka ngomong babadarah. Awalnya sempat mrinding. Ini apaan bawa2 darah. Ternyata artinya awesome. Hoouuu…
Hayoo.. ada yang tau siapa aja mereka2 itu? :))

 

Sebenarnya kita mulai berasa akrab tuh pas udah mau pulang gitu sih.. itu yang membuat sedih dan terharu. Ternyata mereka itu PENGEN AKRAB dengan korlapnya, akrab seakrab-akrabnya. Kalau bisa cinlok sekalian..

#intermezo,,, udah jarang yah kita pakai kata akrab.. berasa aneh nulisnya..

Tapi mungkin kami yang kurang peka karena kebanyakan makan nasi kotak catering. Jadi kami cuek aja beibeh..

Maafin yah…

 

Pas hari terakhir aku ambil keputusan untuk liburan, kebetulan pas hari raya umat Muslim.

Kita pergi ke pantai.

Nah pas mau berangkat ternyata ada rombongan lain yang mau bareng sama kita ke pantai. Karena mereka yang lebih tahu, jadinya mereka yang di depan.

Pantai Mawon

Kirain mau dibawa ke pantai Kuta Mandalika yang dekat. Tapi ternyata dibawa ke pantai Mawon yang jauhnya lebih-lebih dari LDR nya Raisa sama Julius Wagner ( jauh banget kan… )

Padahal waktu itu kami juga harus segera ke airport dan pulang ke Jakarta. Alhasil begitu sampai di pantai Mawon, bukannya kami menikmati pantainya tapi malah sibuk check in online biar ngga ketinggalan pesawat.

Mana sinyalnya susahnya setengah mati, kadang ada kadang ilang kayak tarik ulur sama gebetan.

Pas udah checkin, foto2 bentar, dan kami langsung mau ke airport.

Ternyata itu semua rombongan kloter ke 2 malah mau ikut nganterin ke airport juga dan rela kehilangan kesempatan main-main di pantai Mawon. Semua semangat nganterin kecuali relawan cowo nya dari tatap matanya kaya ngga ikhlas gitu.

Gue sumpahin kalian jadi dokter!

Pas didalam airport, aku dan Sisco sempat terdiam dan tertegun dengan kejadian-kejadian itu. Kok mau-maunya mereka nganterin kita dan meninggalkan pantai Mawon yang so beautiful. I love you all guys..

 

Pantai memang menyatukan kami semua. Tidak hanya di kloter kami tapi juga di setiap kloter dan korlap, bermain di pantai menyatukan dan membuat gembira. Meskipun capek dan lengket keringat ditubuh, tapi begitu liat pantai dan menyentuh pasir, terasa hilang semua lelah.

Pantai sire

Session 2 menanti dengan kisah dan kenangan yang tak kalah seru. Namun kali ini karena udah lebih pengalaman, jadi improvisasinya lebih banyak dan BABADARAH!

Bersambung….

 

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY