Ada yang bilang bahwa saat kamu menolong orang yang tidak bisa membalasnya, maka Tuhan yang akan membalasnya kepadamu.

Aku yakin bahwa itu benar.

Sampai saat bos di kantor kirim di grup WA bahwa harus ada yang dikirim ke Lombok karena pasca gempa dan menjadi coordinator lapangan disana. Celakanya sampai beberapa hari tidak ada yang merespon wa tersebut. Entah mungkin takut atau malas kesana.

Jadi setelah 4 hari, jujur motivasi awal karena kasian kalau ngga ada yang ngegantiin kloter awal OBI bisa berantakan, akhirnya ku chat seorang teman, namanya Sisco, untuk barengan kesana. Sebenarnya aku sudah ancang-ancang, seandainya Sisco ngga mau, kemungkinan aku juga tidak akan pergi.

Saat dia mau, langsung perutku jadi mules.

 

Di posko OBI Lombok yang letaknya di Mataram sudah banyak relawan. Ada dokter dan perawat. Tidak ada yang kukenal satu orangpun. Iyalah secara mereka kan didatangkan dari beberapa kota di Indonesia. Awalnya kupikir kita akan tinggal di tenda, makan indomie dan sarden setiap hari, atau setidaknya menu tambahannya adalah abon kering dan ikan asin. Tapi ternyata salah besar.

Tahu ngga seperti apa bentuk dari posko OBI di Lombok?

Itu bangunan 2 lantai yang gede banget dengan luas sekitar 1500 m2. Kami tidur di lantai 2. Cowo dan cewe dipisah dalam 2 kamar yang berbeda. Disana sudah tersedia kasur dengan kamar ber AC, wifi, TV kabel, laundry dan catering. Mirip hotel deh cuma ini satu kamar rame2 bisa sampai 20 orang kayak ikan sarden dijejerin.

Aku berasa gagal perkasa dan jiwa sosialku jadi impoten.

Bayangkan saat ribuan rumah di Lombok Utara dan timur rata dengan tanah, OBI mendapatkan berkah dengan tinggal di rumah yang keren sebagai basecamp tanggap bencana.

Malam pertama tinggal di basecamp Mataram tiba-tiba kami “diculik” oleh seorang dokter senior yang membawa 1 botol arak hitam dan diajak untuk menikmati arak dicampur susu. Tahu ngga dimana kami diajak buat melakukan perbuatan itu? Di dalam kamar cewek! Tenang..tenang.. pintu kebuka dan yang relawan cewe juga lalu-lalang kok. 

Sementara yang lain udah ada di meja panjang dan sedang siap-siap mau briefing, kami sekitar berenam ( 2 cowo dan 4 cewe )  dikamar sibuk menikmati gelas berisi campuran arak hitam dan susu.

Dosa ngga? Nggaklah, kan itu arak kesehatan. Yang kasih juga dokter kok, jadi kita sih percaya aja hahaha.. Yang aku sesalkan adalah saat itu karena situasi buru-buru jadi kami cuma minum gelas kecil doang.

Efeknya malam itu aku dan Sisco tidur dengan sangat pulas.

Untunglah 2 hari kemudian, sebagian kami pindah di tenda Sigar Penjalin, Lombok Utara, tinggal di tengah-tengah pengungsi.

Sebagai relawan yang berdedikasi tinggi, dan rela menderita, tetap kami bawa kasur lipat, bedcover, lampu emergency, genset dan makanan yang banyak selain obat-obatan tentunya.

Entah kami yang norak atau memang ngga mau rugi ah..

Ini mah glamping bang, bukan ngetenda..

Pura-pura jadi pengungsi sih lebih tepatnya sekalian ngerelawan.

Glamping relawan

 

Kehidupan di tenda Sigar Penjalin

Seorang teman pernah bilang kalau kamu ingin melihat kehidupan atau tabiat asli dari seseorang, ajaklah dia berpetualang. Nah dari 5 harian di tenda Sigar Penjalin, ada beberapa hal yang kupelajari.

  • Harus tau timing yang tepat agar bisa boker dengan lancar tanpa harus ngantri di KM umum terutama saat pagi hari dan malam hari. Btw, air hanya mengalir dari jam 4 pagi sampai jam 8 pagi dan jam 4 sore sampai jam 7 malam. Sisanya kalau kamu kebelet, harus melakukan improvisasi cara ninja.
  • Ada relawan yang hobinya tebar pesona dan yang hobinya menerima pesona :)))
  • Kalau terima kuitansi bon makan harus dihitung bener2 apakah penjumlahannya tepat. Aku tekor ratusan ribu gara-gara dikasih bon2 yang salah hitung model gini. Siyalll…
  • Percayalah bahwa tidak semua orang itu peka dan mau melakukan sesuatu yang diluar pekerjaannya. Pernah 1 kali aku bangun jam 1 malam dan mendapati bahwa genset belum dimatiin. Akhirnya dengan mata setengah terpejam harus bangun, melewati tubuh-tubuh mereka yang terlelap untuk mematikan genset. Habis itu nyalain senter hape untuk bisa masuk ke tenda lagi karena gelap gulita. Nasib korlap bangg….
  • Cinta bisa datang kapan saja dan lebih cepat saat kita ada di situasi yang menantang. Khusus bagian ini akan kuceritakan di bab berikutnya.
Penampakan WC di camp sigar penjalin

Kamu bisa melihat dengan jelas bahwa orang itu unik dan didikan dalam rumah akan sangat terpancar keluar secara natural tanpa ada drama saat dia ada di situasi di luar tekanan. Apa yang kita percaya ( belief ) secara alam bawah sadar akan mengalir keluar.

Apakah ada yang salah dengan itu? Menurutku tidak juga. Misal kamu percaya bahwa sebagai laki-laki kamu percaya bahwa lebih baik tidak mengerjakan pekerjaan rumah yang adalah pekerjaan perempuan ( bagiku sih itu prinsip yang fucking bullshit ), dan misalnya kebetulan kamu dididik seperti itu di rumah, maka itu akan secara alam bawah sadar terpancar keluar saat kamu bersama dengan teman-teman.

  • Aku melihat ada yang sangat care dengan tenda kita, rajin banget nyapu dan ngebersihin tenda tiap kali pulang baksos.
  • Yang rajin nyuci piring dan sendok abis dipakai sama teman2nya juga ada. Namun yang memilih masa bodoh juga ada. Ngga papa juga, mungkin dia milih rajin jadi notulen rapat.

Sebenernya yang paling absurd dari kehidupan di tenda Sigar Penjalin adalah kita menjadikan catering makan pagi kita jadi menu makan siang. Bukan apa-apa, soalnya emang habis gempa ini masih sulit mencari warung yang udah buka disiang hari. Untungnya justru usul itu datang dari para relawan sendiri jadi aku ngga terlalu merasa bersalah. Tahu nggak… rasanya kok kurang bisa kasih yang terbaik buat mereka.

Anyway maafkeun daku ya teman2 relawan yang baek hati dan tidak sombong…

Hal yang spektakuler di pengungsian Sigar Penjalin adalah aku bisa melihat bintang dengan lebih jelas. Saat lihat langit di malam hari apalagi lewat jam 10 malam, aku merasa Tuhan kayak kasih kaca pembesar buatku untuk melihat ciptaannya yang keren banget, jajaran bintang Milky Way…

Sebenarnya paling asik kalau liat bintang yang keren gini bareng pacar. Percaya saja deh, meskipun aku juga belum pernah melakukannya. Tapi berhubung belum bisa meluluhkan hati salah satu relawan untuk mengikuti niat terkutuk ini, akhirnya harus cukup puas ngelihat bintang dengan para jombloers laki-laki antara lain; Deo, Exaudi, Hardy, Yandry yang tiap malam dengan setia duduk di belakang tenda sambil ngopi.

Anyway setelah masuk kloter relawan berikutnya  aku cukup heran sih, mengapa grup yang baru ini nggak ada yang suka melihat bintang di malam hari. Entahkah mungkin mereka semua jomblo atau mereka semua jomblo akut yang jika melihat bintang yang bertaburan itu membuat sakit di hati terasa lebih menusuk?

Kloter kedua sigar penjalin

Kemungkinan yang kedua sih.. hahaha…

Namun asal tahu saja grup kloter relawan kedua inilah yang membuat kami merasa terharu dan cengeng..

Lebay!

Bersambung gaesss…. langsung cus kesini aja.. suka duka jadi korlap 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY