Skip..skip.. sebelum aku nulis lanjutan dari untold story di Lombok, hati kecilku ngerasa lebih baik nulis tentang hal ini dulu.

Ini bisa dibilang semacam curcol atau gosip kepada diri sendiri. Kata siapa nggak boleh? Justru kita itu harus sering ngomong dengan diri sendiri, berargumen dengan diri sendiri dan bergosip dengan diri sendiri. Semakin sering kita melakukannya maka pikiran dan perkataan kita akan semakin berhati-hati. Mengapa? Karena sudah disaring lebih dulu lewat diri sendiri.

Ah tanpa banyak basa basi, langsung saja lah..

Memegang tanggung jawab sebagai koordinator lapangan sekaligus penanggung jawab posko artinya kamu diberikan tanggung jawab yang besar  sebagai berikut :

  1. Memelihara kehidupan para relawan, membuat mereka tetap sehat dan unyu. Ini tidak termasuk mencarikan jodoh buat mereka yang masih jomblo. 
Foto bersama adalah agenda rutin kalau ada yg angkat koper

Sepertinya untuk hal ini bisa dibilang kami para korlap cukup sukses. Berdasarkan testimony dari para relawan, mereka cukup happy dan merasa nambah berat badan selama di Lombok. Satu lagi buktinya adalah bahwa mereka bersedia balik lagi jadi relawan setelah 2-3 minggu di lokasi asal.

Sebenarnya awalnya agak curiga sih mengapa pada pengen balik jadi relawan lagi. Ada beberapa kecurigaan :

  • Jangan-jangan mereka ini sebenarnya adalah para bos. Buktinya bisa ambil cuti dan pergi seenak jidat ke Lombok jadi relawan.
  • Mereka bosen dan jenuh dengan pekerjaan mereka di tempat asal, jadi menjadi relawan seperti semacam refreshing.
  • Pengangguran yang daripada di rumah diomelin mama terus karena bangunnya siang mulu dan sibuk main sosmed lebih baik pergi jadi relawan
  • Hati mereka sangat mulia dan berniat banget nolong sesama. ( kayaknya ini yang paling masuk akal dari semua pilihan )
  • Sekalian cari jodoh biar pulang ke kota asal bisa LDR an dengan gebetan. ( yang ini juga masuk akal sih )

 

  1. Mencari titik-titik lokasi buat pengobatan medis dan pembagian logistik di daerah bencana

Nah ini yang bisa bikin stress sehari-hari. Karena jujur saja gaes, meskipun banyak camp pengungsian disana, tapi lembaga yang datang juga ratusan. Jadi ini akhirnya menjadi semacam ajang pencarian lokasi untuk baksos. Persoalannya jadi tidak semudah itu karena jangan sampai terjadi penumpukan bantuan baik medis atau logistik di satu lokasi.

Jadi kami harus menghindari lokasi yang sudah didatangi oleh lembaga lain dan menerima bantuan medis maksimal 3 hari sebelumnya.

Dokter OBI sedang baksos di lokasi bencana

Kenapa di titik ini aku ngerasa bahasaku jadi belibet ya?

Jujur saja beberapa kali sampai jam malam waktunya briefing dan evaluasi ( kami biasanya briefing malam jam 8 atau 9 malam ), belum ada titik yang pasti untuk baksos besok hari.

Kalau kayak gitu situasinya, biasanya aku ambil waktu masuk kamar buat doa..

Heeyyy… jangan anggap remeh loh kuasa doa. Sehabis doa nggak lama biasanya ada muncul notifikasi di HP berupa sms atau wa bahwa lokasi tersebut sudah konfirmasi untuk baksos besok paginya.

Mirip-mirip ngincer gebetan lah. Kayaknya bertaburan dimana-mana tapi untuk deketin aja butuh cari informasi dulu apakah ada saingan apa nggak. Udah gitu buat nembak biar makin sip diperlukan doa.

Anjaayyy… berasa pahlawan kalau udah kayak gitu, sumpah !

  1. Cari lokasi buat liburan alias refreshing

Siapa sih yang nggak kenal sama Lombok yang konon terkenal akan keindahannya ( dan panasnya ). Nah mumpung di Lombok dan jadi relawan dengan semua pengeluaran ditanggung sama kantor, maka segera dikeluarkan jurus-jurus untuk bisa menyelam sambil minum es campur sekalian.

Pantai pertama yang kami datangi adalah Pantai Sire. Ngga tau juga kenapa namanya itu, yang jelas itu pantai dekat sekali dengan basecamp Sigar Penjalin. Naik mobil 6 menit lah..

Ini bener-bener pantai loh, yang pasirnya kami injak dengan kaki kami yang aduhai bukan pantai yang kami liat saja dari tebing pinggir jalan.

Nah gara-gara itu akhirnya jadi ketagihan ke Pantai tiap pulang agak sore.

Senja adalah dosis yang paling nikmat untuk jiwa yang tenang

Relawan OBI berubah wujud menjadi para pemburu senja yang paling menakjubkan yang pernah kulihat. Bela-belain ngejar setoran periksa pasien secepat mungkin agar sorenya masih bisa ke pantai dan lihat senja.

Nah..

Jadi apakah sebagai korlap saya menikmati keadaan ini semua? Literally yes! Nikmat mana yang kau dustakan?

Makan, tidur dan semua pengeluaran di tanggung OBI

Tiap sore bisa ke pantai dan melihat senja

Dikelilingi para dokter dan nurse yang cantik-cantik…

 

Haiyyaaa… hoya..hoya..hoya..

 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY